MAKALAH
MODEL
PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD
Student Team Achievement Divisions
JUDUL
OLEH
ABDURROYAD
NIM. A1H114589
UNIVERSITAS
LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS
KEGURUAN DAN IILMU PENDIDIKAN
PROGRAM
SARJANA (S1) KEPENDIDIKAN BAGI GURU
DALAM JABATAN
PENGAKUAN
PENGALAMAN KERJA DAN HASIL BELAJAR
BANJARMASIN
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, kita ucapkan puji serta syukur kehadirat Allah SWT yang dengan
rahmat, taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga berkat
karunia-Nyalah penulis dapat menyelesaikan tugas makalah Model Pembelajaran
tipe STAD (Student Teams Achievement Division) tanpa
halangan yang berarti dan selesai tepat pada waktunya.
Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada baginda
kita Nabi Muhammad SAW. yang telah membawa umat manusia ini ke jalan yang
benar.
Tujuan utama penulis membuat makalah ini yaitu berharap Semoga makalah ini dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan kita semua, yang tentunya memiliki nilai-nilai kebaikan yang tinggi. Penulis sadar dalam
penyusunan makalah ini masih banyak sekali kekurangan-kekurangannya. Oleh
karena itu, kritikan dan saran dari dosen pembimbing dan teman-teman serta
pembaca sangat penulis harapkan demi kesempurnaan dan kebenaran makalah ini.
Akhir kata, penulis ucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kapada dosen
pembimbing dan teman-teman yang telah membantu penulis dalam penyusunan makalah
ini.
Martapura, Pebruari 2015
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Usaha
meningkatkan mutu pendidikan dan pembelajaran di masa yang akan datang
diperlukan perubahan pola pikir yang akan dijadikan sebagai Landasan
pelaksanaan program pembelajaran. Proses pembelajaran di masa yang lalu
terfokus pada guru, dan kurang berfokus pada siswa. Akibatnya kegiatan belajar
mengajar lebih menekankan pada pengajaran dan bukan pada pembelajaran. Kegiatan
pengajaran lebih berpihak pada kepentingan orang yang mengajar, sedang kegiatan
pembelajaran lebih berpihak kepada orang yang belajar.
Selain perubahan
pola pikir di atas masih ada satu hal lagi yang harus diubah yang selama ini
proses pembelajaran terbatas pada memahami konsep dan prinsip keilmuan, tetapi
juga memiliki kemampuan untuk berbuat sesuatu sesuai dengan konsep dan prinsip
keilmuan yang telah dimilikinya. Pembelajaran di masa
yang akan datang harus dibangun di atas empat pilar yaitu pembelajaran untuk
tahu (learning to know), pembelajaran
untuk mampu berbuat (learning to do),
pembelajaran untuk membangun jati diri yang kokoh (learning to be), dan pembelajaran untuk hidup bersama secara
harmonis (learning to live together),
hal ini sesuai dengan Laporan Commission
on Education For the Twenty – First Century pada Unesco 1996 (dalam
Djuanda, 2006:1).
Pemanfaatan
model pembelajaran untuk kegiatan pendidikan dipandang perlu dalam rangka
peningkatan kegiatan belajar mengajar
Hamalik, (2008:212). Karena
dengan penerapan model pembelajaran tersebut tujuan pendidikan yang efektif dan
efisien akan tercapai. Pemanfaatan ini memungkinkan munculnya suasana baru yang
lebih harmonis dan bermakna. Guru tidak lagi mendominasi dalam kegiatan belajar
mengajar, tetapi lebih banyak berperan sebagai fasilitator dan mediator. Sehingga
kegiatan belajar mengajar lebih menekankan pada kegiatan pembelajaran bukan
pada pengajaran. Jadi siswa secara bersama-sama membangun pengetahuannya
sendiri.
Salah satu
masalah pokok dalam pembelajaran pada pendidikan formal di sekolah dewasa ini
adalah masih rendahnya daya serap peserta didik. Hal ini nampak pada rerata
hasil belajar peserta didik yang senantiasa masih sangat memprihatinkan.
Prestasi ini tentunya merupakan hasil kondisi pembelajaran yang masih bersifat
konvensional dan tidak menyentuh ranah dimensi peserta didik itu sendiri, yaitu
bagaimana sebenarnya belajar itu (belajar untuk belajar). Proses pembelajaran
hingga dewasa ini masih memberikan dominasi guru dan tidak memberikan akses
bagi anak didik untuk berkembang secara mandiri melalui penemuan dan proses
berpikirnya.
Para
pendidik dituntut untuk mau mengubah paradigma mereka dalam proses
pembelajaran, yaitu belajar yang awalnya berpusat pada guru menjadi berpusat
pada siswa dengan menerapkan model pembelajaran yang variatif untuk memunculkan
potensi dan kompetensi siswa yang selama ini terpendam, sehingga dapat
meningkatkan hasiil belajar siswa yang selama ini masih rendah. Salah satu
model pembelajaran yang bisa digunakan adalah Model Pembelajaran Kooperatif
Tipe Student Team Achievement Division) STAD.
Berdasarkan
kondisi ini, maka guru perlu menguasai berbagai model dan pendekatan belajar,
khususnya model dan pendekatan belajar yang menekankan siswa aktif. Salah satu alternatif pengembangan model tersebut adalah dengan
menerapkan model pembelajaran kooperatif (Cooperatif
Learning). Salah satu model pembelajaran kooperatif yang dapat diterapkan
guru adalah model Student Teams
Achievement Division (STAD).
Model pembelajaran kooperatif tipe
STAD merupakan model pembelajaran yang sangat sederhana dan mudah untuk
dilaksanakan untuk semua mata pelajaran dan bagi guru-guru yang baru mengenal
pembelajaran kooperatif. Hal ini senada dengan pernyataan Slavin (dalam
Chairani, 2003:3).
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apa yang
dimaksud model pembelajaran kooperatif tipe STAD ?
2.
Apa saja
yang termasuk karakteristik model pembelajaran kooperatif tipe STAD ?
3.
Apa saja
langkah-langkah model pembelajarak kooperatif tipe STAD ?
4.
Apa
kelebihan dan kekurangan dari pembelajaran kooperatif tipe STAD ?
C.
Tujuan
1.
Untuk memahami
model pembelajaran kooperatif tipe STAD
2.
Untuk
memahami karakteristik pembelajaran tipe kooperatif tipe STAD
3.
Untuk
memahami langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe STAD
4.
Untuk mengetahui
kelebihan dan kekurangan dari model pembelajaran kooperatif tipe STAD
D.
Manfaat
1.
Dapat memahami model
pembelajaran kooperatif tipe STAD
2.
Dapat memahami
karakteristik model pembelajaran
kooperatif tipe STAD
3.
Dapat memahami langkah-langkah
model pembelajaran kooperatif tipe STAD
4.
Dapat mengetahui kelebihan dan
kekurang model pembelajaran kooperatif tipe STAD
BAB II
Kajian Pustaka
A.
Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
1.
Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Pembelajaran
kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) yang dikembangkan oleh
Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkin (Slavin, 1995) merupakan pembelajaran kooperatif yang
paling sederhana, dan merupakan pembelajaran kooperatif yang cocok digunakan
oleh guru yang baru mulai menggunakan pembelajaran kooperatif.
Student Team Achievement Divisions
(STAD) adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang paling sederhana.
Siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan empat orang yang merupakan
campuran menurut tingkat kinerjanya, jenis kelamin dan suku. Guru menyajikan
pelajaran kemudian siswa bekerja dalam tim untuk memastikan bahwa seluruh
anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya seluruh siswa dikenai
kuis tentang materi itu dengan catatan, saat kuis mereka tidak boleh saling
membantu.
Model Pembelajaran Koperatif tipe
STAD merupakan pendekatan Cooperative Learning yang menekankan pada aktivitas
dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam
menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal. Guru yang
menggunakan STAD mengajukan informasi akademik baru kepada siswa setiap minggu
mengunakan presentasi Verbal atau teks.
Menurut Slavin (dalam Noornia, 1997:
21) ada lima komponen utama dalam pembelajaran kooperatif metode STAD, yaitu:
a.
Penyajian Kelas
Penyajian kelas merupakan penyajian
materi yang dilakukan guru secara klasikal dengan menggunakan presentasi verbal
atau teks. Penyajian difokuskan pada konsep-konsep dari materi yang dibahas.
Setelah penyajian materi, siswa bekerja pada kelompok untuk menuntaskan materi
pelajaran melalui tutorial, kuis atau diskusi.
b.
Menetapkan siswa dalam kelompok
Kelompok menjadi hal yang sangat penting
dalam STAD karena didalam kelompok harus tercipta suatu kerja kooperatif antar
siswa untuk mencapai kemampuan akademik yang diharapkan. Fungsi dibentuknya
kelompok adalah untuk saling meyakinkan bahwa setiap anggota kelompok dapat
bekerja sama dalam belajar. Lebih khusus lagi untuk mempersiapkan semua anggota
kelompok dalam menghadapi tes individu. Kelompok yang dibentuk sebaiknya
terdiri dari satu siswa dari kelompok atas, satu siswa dari kelompok bawah dan
dua siswa dari kelompok sedang. Guru perlu mempertimbangkan agar jangan sampai
terjadi pertentangan antar anggota dalam satu kelompok, walaupun ini tidak
berarti siswa dapat menentukan sendiri teman sekelompoknya.
c.
Tes dan Kuis
Siswa diberi tes individual setelah
melaksanakan satu atau dua kali penyajian kelas dan bekerja serta berlatih
dalam kelompok. Siswa harus menyadari bahwa usaha dan keberhasilan mereka
nantinya akan memberikan sumbangan yang sangat berharga bagi kesuksesan
kelompok.
d.
Skor peningkatan individual
Skor peningkatan individual berguna
untuk memotivasi agar bekerja keras memperoleh hasil yang lebih baik
dibandingkan dengan hasil sebelumnya. Skor peningkatan individual dihitung
berdasarkan skor dasar dan skor tes. Skor dasar dapat diambil dari skor tes
yang paling akhir dimiliki siswa, nilai pretes yang dilakukan oleh guru
sebelumnya melaksanakan pembelajaran kooperatif metode STAD.
e.
Pengakuan kelompok
Pengakuan kelompok dilakukan dengan
memberikan penghargaan atas usaha yang telah dilakukan kelompok selama belajar.
Kelompok dapat diberi sertifikat atau bentuk penghargaan lainnya jika dapat
mencapai kriteria yang telah ditetapkan bersama. Pemberian penghargaan ini
tergantung dari kreativitas guru.
Unsur-unsur dasar model STAD, menurut
Arend (1997) adalah sebagai berikut :
1.
Siswa dalam kelompoknya
haruslah beranggapan bahwa mereka “sehidup sepenanggungan bersama”.
2.
Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu didalam kelompoknya, seperti
milik mereka sendiri.
3.
Siswa haruslah melihat bahwa
semua anggota didalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama.
4.
Siswa haruslah membagi tugas
dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya.
5.
Siswa akan dikenakan atau akan
diberikan hadiah atau penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota
kelompok.
6.
Siswa
berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama.
7.
Siswa
akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang dipelajari
dalam kelompoknya.
Jadi setiap anggota kelompok
harus memberikan skor yang terbaik kepada kelompoknya dengan menunjukkan
peningkatan penampilan dengan sebelumnya atau dengan mencapai nilai sempurna.
Kelompok yang tanpa memiliki anggota-anggota yang meningkat nilainya dan
menghasilkan skor yang sempurna tidak akan menang atau mendapat penghargaan.
2.
Karakteristik
Pembelajaran STAD
a.
Menyampaikan
materi pembelajaran
b.
Membagi
siswa dalam kelompok kooperatif yang beranggotakan 4 atau 5 siswa
c.
Menjelaskan
langkah-langkah kerja kelompok
d.
Membimbing
isswa dalam kerja kelompok
e.
Menugasi
siswa melaporkan hasil kerja kelompok
f.
Membimbing
siswa menyimpulkan pembelajaran
3.
Langkah-langkah Model
Pembelajaran Kooperatif tipe STAD
Adapun langkah-langkah
pembelajaran pada Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD yang diadaptasi dari
Slavin (1995) yaitu :
(1) Penyajian kelas
Guru memulai pembelajaran dengan menyampaikan tujuan pembelajaran dan
memotivasi pebelajar untuk belajar. Selanjutnya tahap ini diikuti dengan
penyajian informasi sebagaimana pembelajaran yang berlangsung di kelas
konvensional. Pada tahap penyajian ini, guru dapat menggunakan berbagai metode
atau pendekatan yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan, misalnya dengan
sedikit ceramah dan Tanya jawab, atau ekspositori, demonstrasi, dan peragaan.
Pada tahap penyajian, pebelajar harus dapat memahami penjelasan guru. Oleh karena
itu setiap siswa harus menyimak dengan baik.
(2) Tahapan kegiatan
belajar kelompok
Ide utama adalah siswa bekerja dan belajar bersama di dalam kelompok. Waktu
yang digunakan 1-2 jam pelajaran. Bahan yang diperlukan adalah dua lembar kerja
dan dua lembar jawab untuk setiap kelompok. Siswa dibagi-bagi dalam
kelompok-kelompok kecil dengan beranggotakan 2-6 orang perkelompok (pada
umumnya terdiri dari empat orang) dan paling banyak 7 kelompok di dalam satu
kelas.
Formasi anggota kelompok
didasarkan pada hasil tes yang dapat dijadikan tes dasar seperti tes awal atau
nilai rapor atau tes paling akhir. Agar diskusi di kelompok berjalan dengan
baik, maka perlu diperhatikan cara memilih anggota kelompok. Berikut ini cara
memilih anggota suatu kelompok.
Direncanakan membentuk empat
kelompok yang terdiri dari empat anggota dari 16 orang anggota kelas. Formasi
yang diinginkan adalah 1 orang berkemampuan tinggi, 2 orang berkemampuan
sedang, dan 1 orang berkemampuan rendah. Hasil tes dasar disusun dari skor tertinggi
sampai terendah. Nama setiap anggota pada contoh ini ditandai dengan huruf
abjad, kemudian disusun dalam tabel seperti dibawah ini.
Tabel 1. Rangking Kemampuan Siswa
|
Tingkat kemampuan pebelajar
|
Rangking
|
Nama-nama pebelajar
|
|
Kemampuan tinggi
|
1
|
A1
|
|
2
|
A2
|
|
|
3
|
A3
|
|
|
4
|
A4
|
|
|
Kemampuan menengah
|
5
|
B4
|
|
6
|
B3
|
|
|
7
|
B2
|
|
|
8
|
B1
|
|
|
9
|
C1
|
|
|
10
|
C2
|
|
|
11
|
C3
|
|
|
12
|
C4
|
|
|
Kemampuan rendah
|
13
|
D4
|
|
14
|
D3
|
|
|
15
|
D2
|
|
|
16
|
D1
|
Berdasarkan tabel 1 di atas, maka
dipilih anggota kelompok I yang anggota-anggotanya adalah A1, B1, C1, dan D1
yang terdiri dari 1 orang berkemampuan tinggi, 2 orang berkemampuan sedang, dan
1 orang berkemampuan rendah. Anggota kelompok II adalah A2, B2, C2, dan D2,
anggota kelompok III adalah A3, B3, C3, dan D3, anggota kelompok IV adalah A4,
B4, C4, D4.
Selanjutnya
siswa belajar bersama dalam kelompok. Setiap anggota harus bertanggung jawab
pada keberhasilan anggota yang lain dikelompoknya. Jika ada seorang anggota
yang belum memahami isi materi, maka anggota lain bertanggung jawab untuk memberikan
informasi. Setiap anggota yang sudah menguasai materi menjadi tutor sebaya
sampai semua materi dipahami oleh setiap anggota kelompok.
(3) Tahapan menguji hasil
belajar individu
Untuk menguji hasil belajar individu, pada umumnya digunakan tes. Setiap siswa wajib mengerjakan tes. Pada tahap ini siswa tidak diperkenankan untuk
saling memberitahu yang lain. Setiap siswa berusaha
untuk bertanggung jawab secara individual, melakukan yang terbaik, karena
dengan demikian, ia dapat menyumbangkan skor individunya untuk menambah skor
kelompok. Sehingga kesuksesan kelompok sangat bergantung dari skor keberhasilan
setiap individu di kelompoknya.
(4) Skor perkembangan
individu
Tujuan memberikan skor perkembangan
individu adalah memberikan kesempatan bagi setiap siswa untuk menunjukkan
gambaran pencapaian hasil belajar maksimal yang telah dilakukan setiap
individu. Skor perkembangan setiap siswa ditentukan berdasarkan selisih
perolehan skor terdahulu (skor dasar) dengan skor tes terkini. Setiap siswa
memiliki kesempatan yang sama untuk menyumbangkan skor maksimal bagi
kelompoknya.
Prosedur penskoran perkembangan individu dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2.Prosedur penskoran peningkatan
individu
|
No.
|
Skor Siswa
|
Skor
Perkembangan
|
|
1.
|
Lebih dari 10 poin di bawah skor dasar
|
5 poin
|
|
2.
|
10 – 1 poin di bawah skor dasar
|
10 poin
|
|
3.
|
Skor dasar sampai 10 poin di atas skor
dasar
|
20 poin
|
|
4.
|
Lebih dari 10 poin di atas skor dasar
|
30 poin
|
|
5.
|
Pekerjaan sempurna (tanpa skor dasar)
|
30 poin
|
Asma, (2006:90)
(5) Tahapan mengukur hasil
belajar kelompok
Setelah kegiatan perhitungan skor
perkembangan individu selesai, langkah selanjutnya adalah pemberian penghargaan
(reward) kepada kelompok. Penghargaan
kelompok didasarkan pada urutan besarnya skor peningkatan yang diperoleh setiap
kelompok.
Untuk menentukan skor yang dicapai
kelompok digunakan rumus yang diadaptasi dari Slavin.
|
Jumlah total skor
perkembangan kelompok
Banyaknya anggota
kelompok
|
Keterangan : Nk = Nilai Kelompok
Tiap-tiap tim memperoleh suatu sertifikat khusus
berdasarkan sistem poin yang berdasarkan tabel berikut :
Tabel
3. Tingkat penghargaan Tim
|
No.
|
Rata-rata Kelompok
|
Penghargaan Tim
|
|
1.
|
N < 15
|
Tanpa penghargaan
|
|
2.
|
15 ≤ N < 20
|
Tim baik
|
|
3.
|
20 ≤ N < 25
|
Tim hebat
|
|
4.
|
N ≥ 25
|
Tim super
|
(Dinas Pendidikan, 2004)
Keterangan
: N = Nilai Kelompok
4.
Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran
Tipe STAD
a.
Kelebihan
model pembelajaran Kooperatif tipe STAD menurut Davidson (dalam Nurasma,
2006:26) :
1. Meningkatkan kecakapan individu
2. Meningkatkan kecakapan kelompok
3. Meningkatkan komitmen
4. Menghilangkan prasangka buruk terhadap
teman sebaya
5. Tidak bersifat kommpetitif
6. Tidak memiliki rasa dendam
b.
Kekurangan
model pembelajaran tipe STAD menurut Slavin (dalam Nurasma, 2006) :
1. Kontribusi dari siswa berprestasi rendah
menjadi kurang
2. Siswa berprestasi tinggi akan mengarah
pada kekecewaan karena peran anggota yang pandai lebih dominan.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1.
Slavin 1995:5 memberi definisi
Belajar Kooperatif (Cooperatif Learning)
sebagai suatu teknik pembelajaran dimana siswa bekerja dalam suatu kelompok
yang heterogen yang beranggotakan 4-6 orang. Heterogen anggota kelompok dapat
ditinjau dari jenis kelamin, etnis, prestasi akademik maupun status sosial.
2.
Student Team Achievement
Divisions (STAD) adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang paling
sederhana. Siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan empat orang yang
merupakan campuran menurut tingkat kinerjanya, jenis kelamin dan suku.
3.
Adapun
langkah-langkah pembelajaran pada Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD yang
diadaptasi dari Slavin (1995) yaitu : penyajian kelas, tahapan kegiatan belajar
kelompok, menguji hasil belajar individu, skor prkembangan individu, mengukur
hasil belajar kelompok.
B.
Saran
1.
Kepada guru-guru diharapkan dapat menerapkan model pembelajaran kooperatif
tipe STAD sebagai salah satu alternative untuk dapat meningkatkan aktivitas
belajar dan hasil belajar pada mata pelajaran matematika.
2.
Kelemahan yang terdapat pada pembelajaran kooperatif tipe STAD ini adalah
pembagian kelompok yang kurang merata dan kurang cermatnya dalam menentukan
skor. Oleh karena itu, diharapkan bagi guru yang menerapkan metode ini agar
lebih cermat dan teliti dalam menentukan kelompok dan dalam menghitung skor
peningkatan individu atau kelompok.
3.
Karena kegiatan ini sangat bermanfaat bagi guru dan siswa, maka diharapkan
kegiatan ini dapat dilakukan secara berkesinambungan dalam pembelajaran.
Daftar Pustaka
Asma, N. (2006). Model Pembelajaran
Kooperatif. Jakarta: Depdiknas.
Chairani, Z. (2003). Model Belajar Kooperatif Sebagai Inovasi
Pembelajaran. Banjarmasin: Balai Penataran Guru.
Djamarah. (2002). Psikologi Belajar. Jakarta: PT.Bhineka.
Fathurrohman, Pupuh. (2007). Strategi Belajar mengajar Melalui
Penenaman Konsep Umun dan islami. Bandung: PT. Replika Aditama.
Ibrahim, d. (2000). Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: University
Press.
Slavin, R. (1995). Cooperatif Learning. Boston: Allyn and Bacon.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar