Rabu, 29 Juni 2016

MAKALAH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD

MAKALAH

MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD

Student Team Achievement Divisions

            JUDUL






















OLEH
ABDURROYAD
NIM. A1H114589







UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS KEGURUAN DAN IILMU PENDIDIKAN
PROGRAM SARJANA (S1) KEPENDIDIKAN BAGI  GURU DALAM  JABATAN
PENGAKUAN PENGALAMAN KERJA DAN HASIL BELAJAR
BANJARMASIN
2015


KATA PENGANTAR


            Alhamdulillah, kita ucapkan puji serta syukur kehadirat Allah SWT yang dengan rahmat, taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga berkat karunia-Nyalah penulis dapat menyelesaikan tugas makalah Model Pembelajaran tipe STAD (Student Teams Achievement Division)  tanpa halangan yang berarti dan selesai tepat pada waktunya.
            Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada baginda kita Nabi Muhammad SAW. yang telah membawa umat manusia ini ke jalan yang benar.
            Tujuan utama penulis membuat makalah ini yaitu berharap Semoga makalah ini dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan kita semua, yang tentunya memiliki nilai-nilai kebaikan yang tinggi. Penulis sadar dalam penyusunan makalah ini masih banyak sekali kekurangan-kekurangannya. Oleh karena itu, kritikan dan saran dari dosen pembimbing dan teman-teman serta pembaca sangat penulis harapkan demi kesempurnaan dan kebenaran makalah ini.
            Akhir kata, penulis ucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kapada dosen pembimbing dan teman-teman yang telah membantu penulis dalam penyusunan makalah ini.

                                                                     Martapura,       
Pebruari 2015


                                                                                             Penulis




BAB I

PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang

Usaha meningkatkan mutu pendidikan dan pembelajaran di masa yang akan datang diperlukan perubahan pola pikir yang akan dijadikan sebagai Landasan pelaksanaan program pembelajaran. Proses pembelajaran di masa yang lalu terfokus pada guru, dan kurang berfokus pada siswa. Akibatnya kegiatan belajar mengajar lebih menekankan pada pengajaran dan bukan pada pembelajaran. Kegiatan pengajaran lebih berpihak pada kepentingan orang yang mengajar, sedang kegiatan pembelajaran lebih berpihak kepada orang yang belajar.
Selain perubahan pola pikir di atas masih ada satu hal lagi yang harus diubah yang selama ini proses pembelajaran terbatas pada memahami konsep dan prinsip keilmuan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk berbuat sesuatu sesuai dengan konsep dan prinsip keilmuan yang telah dimilikinya. Pembelajaran di masa yang akan datang harus dibangun di atas empat pilar yaitu pembelajaran untuk tahu (learning to know), pembelajaran untuk mampu berbuat (learning to do), pembelajaran untuk membangun jati diri yang kokoh (learning to be), dan pembelajaran untuk hidup bersama secara harmonis (learning to live together), hal ini sesuai dengan Laporan Commission on Education For the Twenty – First Century pada Unesco 1996 (dalam Djuanda, 2006:1).
Pemanfaatan model pembelajaran untuk kegiatan pendidikan dipandang perlu dalam rangka peningkatan kegiatan belajar mengajar  Hamalik, (2008:212). Karena dengan penerapan model pembelajaran tersebut tujuan pendidikan yang efektif dan efisien akan tercapai. Pemanfaatan ini memungkinkan munculnya suasana baru yang lebih harmonis dan bermakna. Guru tidak lagi mendominasi dalam kegiatan belajar mengajar, tetapi lebih banyak berperan sebagai fasilitator dan mediator. Sehingga kegiatan belajar mengajar lebih menekankan pada kegiatan pembelajaran bukan pada pengajaran. Jadi siswa secara bersama-sama membangun pengetahuannya sendiri.
Salah satu masalah pokok dalam pembelajaran pada pendidikan formal di sekolah dewasa ini adalah masih rendahnya daya serap peserta didik. Hal ini nampak pada rerata hasil belajar peserta didik yang senantiasa masih sangat memprihatinkan. Prestasi ini tentunya merupakan hasil kondisi pembelajaran yang masih bersifat konvensional dan tidak menyentuh ranah dimensi peserta didik itu sendiri, yaitu bagaimana sebenarnya belajar itu (belajar untuk belajar). Proses pembelajaran hingga dewasa ini masih memberikan dominasi guru dan tidak memberikan akses bagi anak didik untuk berkembang secara mandiri melalui penemuan dan proses berpikirnya.
Para pendidik dituntut untuk mau mengubah paradigma mereka dalam proses pembelajaran, yaitu belajar yang awalnya berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa dengan menerapkan model pembelajaran yang variatif untuk memunculkan potensi dan kompetensi siswa yang selama ini terpendam, sehingga dapat meningkatkan hasiil belajar siswa yang selama ini masih rendah. Salah satu model pembelajaran yang bisa digunakan adalah Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team Achievement Division) STAD.
Berdasarkan kondisi ini, maka guru perlu menguasai berbagai model dan pendekatan belajar, khususnya model dan pendekatan belajar yang menekankan siswa aktif. Salah satu alternatif pengembangan model tersebut adalah dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif (Cooperatif Learning). Salah satu model pembelajaran kooperatif yang dapat diterapkan guru adalah model Student Teams Achievement Division (STAD).
Model pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan model pembelajaran yang sangat sederhana dan mudah untuk dilaksanakan untuk semua mata pelajaran dan bagi guru-guru yang baru mengenal pembelajaran kooperatif. Hal ini senada dengan pernyataan Slavin (dalam Chairani, 2003:3).

B.       Rumusan Masalah

1.         Apa yang dimaksud model pembelajaran kooperatif tipe STAD ?
2.         Apa saja yang termasuk karakteristik model pembelajaran kooperatif tipe STAD ?
3.         Apa saja langkah-langkah model pembelajarak kooperatif tipe STAD ?
4.         Apa kelebihan dan kekurangan dari pembelajaran kooperatif tipe STAD ?

C.      Tujuan

1.         Untuk memahami model pembelajaran kooperatif tipe STAD
2.         Untuk memahami karakteristik pembelajaran tipe kooperatif tipe STAD
3.         Untuk memahami langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe STAD
4.         Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan dari model pembelajaran kooperatif tipe STAD

D.      Manfaat

1.         Dapat memahami model pembelajaran kooperatif tipe STAD
2.         Dapat memahami karakteristik  model pembelajaran kooperatif tipe STAD
3.         Dapat memahami langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe STAD
4.         Dapat mengetahui kelebihan dan kekurang model pembelajaran kooperatif tipe STAD


BAB II

Kajian Pustaka

A.      Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD

1.      Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD

     Pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) yang dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkin (Slavin, 1995) merupakan pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, dan merupakan pembelajaran kooperatif yang cocok digunakan oleh guru yang baru mulai menggunakan pembelajaran kooperatif.
Student Team Achievement Divisions (STAD) adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan empat orang yang merupakan campuran menurut tingkat kinerjanya, jenis kelamin dan suku. Guru menyajikan pelajaran kemudian siswa bekerja dalam tim untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya seluruh siswa dikenai kuis tentang materi itu dengan catatan, saat kuis mereka tidak boleh saling membantu.
Model Pembelajaran Koperatif tipe STAD merupakan pendekatan Cooperative Learning yang menekankan pada aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal. Guru yang menggunakan STAD mengajukan informasi akademik baru kepada siswa setiap minggu mengunakan presentasi Verbal atau teks.
Menurut Slavin (dalam Noornia, 1997: 21) ada lima komponen utama dalam pembelajaran kooperatif metode STAD, yaitu:
a.         Penyajian Kelas
Penyajian kelas merupakan penyajian materi yang dilakukan guru secara klasikal dengan menggunakan presentasi verbal atau teks. Penyajian difokuskan pada konsep-konsep dari materi yang dibahas. Setelah penyajian materi, siswa bekerja pada kelompok untuk menuntaskan materi pelajaran melalui tutorial, kuis atau diskusi.
b.         Menetapkan siswa dalam kelompok
Kelompok menjadi hal yang sangat penting dalam STAD karena didalam kelompok harus tercipta suatu kerja kooperatif antar siswa untuk mencapai kemampuan akademik yang diharapkan. Fungsi dibentuknya kelompok adalah untuk saling meyakinkan bahwa setiap anggota kelompok dapat bekerja sama dalam belajar. Lebih khusus lagi untuk mempersiapkan semua anggota kelompok dalam menghadapi tes individu. Kelompok yang dibentuk sebaiknya terdiri dari satu siswa dari kelompok atas, satu siswa dari kelompok bawah dan dua siswa dari kelompok sedang. Guru perlu mempertimbangkan agar jangan sampai terjadi pertentangan antar anggota dalam satu kelompok, walaupun ini tidak berarti siswa dapat menentukan sendiri teman sekelompoknya.
c.         Tes dan Kuis
Siswa diberi tes individual setelah melaksanakan satu atau dua kali penyajian kelas dan bekerja serta berlatih dalam kelompok. Siswa harus menyadari bahwa usaha dan keberhasilan mereka nantinya akan memberikan sumbangan yang sangat berharga bagi kesuksesan kelompok.
d.        Skor peningkatan individual
Skor peningkatan individual berguna untuk memotivasi agar bekerja keras memperoleh hasil yang lebih baik dibandingkan dengan hasil sebelumnya. Skor peningkatan individual dihitung berdasarkan skor dasar dan skor tes. Skor dasar dapat diambil dari skor tes yang paling akhir dimiliki siswa, nilai pretes yang dilakukan oleh guru sebelumnya melaksanakan pembelajaran kooperatif metode STAD.
e.         Pengakuan kelompok
Pengakuan kelompok dilakukan dengan memberikan penghargaan atas usaha yang telah dilakukan kelompok selama belajar. Kelompok dapat diberi sertifikat atau bentuk penghargaan lainnya jika dapat mencapai kriteria yang telah ditetapkan bersama. Pemberian penghargaan ini tergantung dari kreativitas guru.
Unsur-unsur dasar model STAD, menurut Arend (1997) adalah sebagai berikut :
1.         Siswa dalam kelompoknya haruslah beranggapan bahwa mereka “sehidup sepenanggungan bersama”.
2.            Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu didalam kelompoknya, seperti milik mereka sendiri.
3.         Siswa haruslah melihat bahwa semua anggota didalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama.
4.         Siswa haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya.
5.         Siswa akan dikenakan atau akan diberikan hadiah atau penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok.
6.         Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama.
7.         Siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang dipelajari dalam kelompoknya.
Jadi setiap anggota kelompok harus memberikan skor yang terbaik kepada kelompoknya dengan menunjukkan peningkatan penampilan dengan sebelumnya atau dengan mencapai nilai sempurna. Kelompok yang tanpa memiliki anggota-anggota yang meningkat nilainya dan menghasilkan skor yang sempurna tidak akan menang atau mendapat penghargaan.

2.      Karakteristik Pembelajaran STAD

a.         Menyampaikan materi pembelajaran
b.        Membagi siswa dalam kelompok kooperatif yang beranggotakan 4 atau 5 siswa
c.         Menjelaskan langkah-langkah kerja kelompok
d.        Membimbing isswa dalam kerja kelompok
e.         Menugasi siswa melaporkan hasil kerja kelompok
f.         Membimbing siswa menyimpulkan pembelajaran

3.         Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD

         Adapun langkah-langkah pembelajaran pada Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD yang diadaptasi dari Slavin (1995) yaitu :
(1)     Penyajian kelas
         Guru memulai pembelajaran dengan menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi pebelajar untuk belajar. Selanjutnya tahap ini diikuti dengan penyajian informasi sebagaimana pembelajaran yang berlangsung di kelas konvensional. Pada tahap penyajian ini, guru dapat menggunakan berbagai metode atau pendekatan yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan, misalnya dengan sedikit ceramah dan Tanya jawab, atau ekspositori, demonstrasi, dan peragaan. Pada tahap penyajian, pebelajar harus dapat memahami penjelasan guru. Oleh karena itu setiap siswa harus menyimak dengan baik.
(2)     Tahapan kegiatan belajar kelompok
         Ide utama adalah siswa bekerja dan belajar bersama di dalam kelompok. Waktu yang digunakan 1-2 jam pelajaran. Bahan yang diperlukan adalah dua lembar kerja dan dua lembar jawab untuk setiap kelompok. Siswa dibagi-bagi dalam kelompok-kelompok kecil dengan beranggotakan 2-6 orang perkelompok (pada umumnya terdiri dari empat orang) dan paling banyak 7 kelompok di dalam satu kelas.
         Formasi anggota kelompok didasarkan pada hasil tes yang dapat dijadikan tes dasar seperti tes awal atau nilai rapor atau tes paling akhir. Agar diskusi di kelompok berjalan dengan baik, maka perlu diperhatikan cara memilih anggota kelompok. Berikut ini cara memilih anggota suatu kelompok.
         Direncanakan membentuk empat kelompok yang terdiri dari empat anggota dari 16 orang anggota kelas. Formasi yang diinginkan adalah 1 orang berkemampuan tinggi, 2 orang berkemampuan sedang, dan 1 orang berkemampuan rendah. Hasil tes dasar disusun dari skor tertinggi sampai terendah. Nama setiap anggota pada contoh ini ditandai dengan huruf abjad, kemudian disusun dalam tabel seperti dibawah ini.
Tabel 1. Rangking Kemampuan  Siswa
Tingkat kemampuan pebelajar
Rangking
Nama-nama pebelajar
Kemampuan tinggi
1
A1
2
A2
3
A3
4
A4
Kemampuan menengah
5
B4
6
B3
7
B2
8
B1
9
C1
10
C2
11
C3
12
C4
Kemampuan rendah
13
D4
14
D3
15
D2
16
D1

Berdasarkan tabel 1 di atas, maka dipilih anggota kelompok I yang anggota-anggotanya adalah A1, B1, C1, dan D1 yang terdiri dari 1 orang berkemampuan tinggi, 2 orang berkemampuan sedang, dan 1 orang berkemampuan rendah. Anggota kelompok II adalah A2, B2, C2, dan D2, anggota kelompok III adalah A3, B3, C3, dan D3, anggota kelompok IV adalah A4, B4, C4, D4.
Selanjutnya siswa belajar bersama dalam kelompok. Setiap anggota harus bertanggung jawab pada keberhasilan anggota yang lain dikelompoknya. Jika ada seorang anggota yang belum memahami isi materi, maka anggota lain bertanggung jawab untuk memberikan informasi. Setiap anggota yang sudah menguasai materi menjadi tutor sebaya sampai semua materi dipahami oleh setiap anggota kelompok. 
(3)     Tahapan menguji hasil belajar individu
         Untuk menguji hasil belajar individu, pada umumnya digunakan tes. Setiap siswa wajib mengerjakan tes. Pada tahap ini siswa tidak diperkenankan untuk saling memberitahu yang lain. Setiap siswa berusaha untuk bertanggung jawab secara individual, melakukan yang terbaik, karena dengan demikian, ia dapat menyumbangkan skor individunya untuk menambah skor kelompok. Sehingga kesuksesan kelompok sangat bergantung dari skor keberhasilan setiap individu di kelompoknya.
(4)     Skor perkembangan individu
         Tujuan memberikan skor perkembangan individu adalah memberikan kesempatan bagi setiap siswa untuk menunjukkan gambaran pencapaian hasil belajar maksimal yang telah dilakukan setiap individu. Skor perkembangan setiap siswa ditentukan berdasarkan selisih perolehan skor terdahulu (skor dasar) dengan skor tes terkini. Setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk menyumbangkan skor maksimal bagi kelompoknya.
         Prosedur penskoran perkembangan individu dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2.Prosedur penskoran peningkatan individu
No.
Skor Siswa
Skor
Perkembangan
1.
Lebih dari 10 poin di bawah skor dasar
5 poin
2.
10 – 1 poin di bawah skor dasar
10 poin
3.
Skor dasar sampai 10 poin di atas skor dasar
20 poin
4.
Lebih dari 10 poin di atas skor dasar
30 poin
5.
Pekerjaan sempurna (tanpa skor dasar)
30 poin
Asma, (2006:90)
(5)     Tahapan mengukur hasil belajar kelompok
         Setelah kegiatan perhitungan skor perkembangan individu selesai, langkah selanjutnya adalah pemberian penghargaan (reward) kepada kelompok. Penghargaan kelompok didasarkan pada urutan besarnya skor peningkatan yang diperoleh setiap kelompok.
         Untuk menentukan skor yang dicapai kelompok digunakan rumus yang diadaptasi dari Slavin.
Jumlah total skor perkembangan kelompok
Banyaknya anggota kelompok
              
Nk =  
                
               Keterangan : Nk = Nilai Kelompok
                        Tiap-tiap tim memperoleh suatu sertifikat khusus berdasarkan sistem poin yang berdasarkan tabel berikut :
               Tabel 3. Tingkat penghargaan Tim
No.
Rata-rata Kelompok
Penghargaan Tim
1.
N < 15
Tanpa penghargaan
2.
15 ≤ N < 20
Tim baik
3.
20 ≤ N < 25
Tim hebat
4.
N ≥ 25
Tim super

(Dinas Pendidikan, 2004)
               Keterangan :  N = Nilai Kelompok

4.         Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Tipe STAD


a.         Kelebihan model pembelajaran Kooperatif tipe STAD menurut Davidson (dalam Nurasma, 2006:26) :
1.      Meningkatkan kecakapan individu
2.      Meningkatkan kecakapan kelompok
3.      Meningkatkan komitmen
4.      Menghilangkan prasangka buruk terhadap teman  sebaya
5.      Tidak bersifat kommpetitif
6.      Tidak memiliki rasa dendam
b.        Kekurangan model pembelajaran tipe STAD menurut Slavin (dalam Nurasma, 2006) :
1.       Kontribusi dari siswa berprestasi rendah menjadi kurang
2.      Siswa berprestasi tinggi akan mengarah pada kekecewaan karena peran anggota yang pandai lebih dominan.


BAB III

PENUTUP


A.      Kesimpulan

1.         Slavin 1995:5 memberi definisi Belajar Kooperatif (Cooperatif Learning) sebagai suatu teknik pembelajaran dimana siswa bekerja dalam suatu kelompok yang heterogen yang beranggotakan 4-6 orang. Heterogen anggota kelompok dapat ditinjau dari jenis kelamin, etnis, prestasi akademik maupun status sosial.
2.         Student Team Achievement Divisions (STAD) adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan empat orang yang merupakan campuran menurut tingkat kinerjanya, jenis kelamin dan suku.
3.         Adapun langkah-langkah pembelajaran pada Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD yang diadaptasi dari Slavin (1995) yaitu : penyajian kelas, tahapan kegiatan belajar kelompok, menguji hasil belajar individu, skor prkembangan individu, mengukur hasil belajar kelompok.

B.       Saran


1.      Kepada guru-guru diharapkan dapat menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD sebagai salah satu alternative untuk dapat meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar pada mata pelajaran matematika.
2.      Kelemahan yang terdapat pada pembelajaran kooperatif tipe STAD ini adalah pembagian kelompok yang kurang merata dan kurang cermatnya dalam menentukan skor. Oleh karena itu, diharapkan bagi guru yang menerapkan metode ini agar lebih cermat dan teliti dalam menentukan kelompok dan dalam menghitung skor peningkatan individu atau kelompok.
3.      Karena kegiatan ini sangat bermanfaat bagi guru dan siswa, maka diharapkan kegiatan ini dapat dilakukan secara berkesinambungan dalam pembelajaran.


Daftar Pustaka


Asma, N. (2006). Model Pembelajaran Kooperatif. Jakarta: Depdiknas.
Chairani, Z. (2003). Model Belajar Kooperatif Sebagai Inovasi Pembelajaran. Banjarmasin: Balai Penataran Guru.
Djamarah. (2002). Psikologi Belajar. Jakarta: PT.Bhineka.
Fathurrohman, Pupuh. (2007). Strategi Belajar mengajar Melalui Penenaman Konsep Umun dan islami. Bandung: PT. Replika Aditama.
Ibrahim, d. (2000). Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: University Press.
Slavin, R. (1995). Cooperatif Learning. Boston: Allyn and Bacon.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar